Kurma
Dalam
agama Hindu, Kurma yang dalam bahasa Sansekerta: berarti "Kura-kura" adalah
avatar kedua Dewa Wisnu. Kurma adalah kura-kura raksasa yang menyelamatkan bumi
dari kehancuran. Oleh karena ukurannya yang sangat besar menjadi peletak dasar bagi mitos Gunung Mandara, yang
digunakan oleh para dewa (dan setan) sebagai tongkat untuk mengaduk lautan susu
primordial untuk memperoleh nektar agar dapat hidup abadi.
Kisah
Avatar Kurma, ditemukan dalam kisah Kurma Purana. Kemunculan Kurma berawal dari
kelalaian Dewa Indra. Dikatakan bahwa Durwasa (seorang yang bijak) memberikan
karangan bunga kepada Indra. Oleh Indra karangan bunga tersebut dikarungkan
pada gajahnya Airavata. Tanpa diduga gajah tersebut melemparkan karangan
bungannya ke tanah dan menginjaknya. Menyaksikan hal tersebut Durwasa menjadi
marah. Ia mengangap bahwa Dewa Indra menghina hadiahnya. Pendek cerita, Duwasa
mengutuk Dewa Indra dan semua dewa lainnya (dewa kebajikan) sehingga mereka
semua kehilangan kekuatan. Mengetahui kekuatan para dewa melemah, maka
Asura (sekelompok dewa jahat dalam
jajaran agama Hindhu) berusaha menaklukan mereka. Perang epik ini disebut
Devasura yang berlangsung lama. Meskipun para dewa telah berjuang dengan gagah
berani, mereka tidak dapat menang dari Asura. Bahkan para dewa ini pergi untuk
menemui Dewa Brahma dan Dewa Siwa agar bersedia membantu, tetapi mereka menolak
permintaan ini.
Sebagai
usaha terakhir, para dewa pergi ke Dewa Wisnu. Ia menyarankan agar para dewa menuangkan
ramuan ke dalam lautan susu, dan menggunakan Gunung Mandara sebagai tongkat untuk
mengaduknya sehingga mereka bisa mendapatkan ramuan keabadian. Namun, para dewa
tidak bisa mencabut gunung. Dengan demikian, Wisnu menyarankan mereka untuk
membuat perjanjian dengan para Asura, sehingga kedua belah pihak akan berbagi
nektar yang dihasilkan.
Para
dewa dan asura akhirnya membuat perjanjian mereka untuk bersama-sama mengaduk
lautan susu. Bersama-sama mereka menjebol Gunung Mandara yang digunakan sebagai
tongkat pengaduk dan menggunakan ular Vasuki sebagai tali untuk mengaduk dengan menarik ke satu sisi dan kemudian yang
lain. Dewa Wisnu menginstruksikan para dewa untuk memegang kepala ular
sementara Asura diperintahkan untuk memegang ujung ekor. Tetapi Asura bersikeras
bahwa mereka harus mengendalikan ujung kepala. Dewa Wisnu menyetujuinya
(sebenarnya ini merupakan trik Dewa Wisnu). Ketika proses pengadukan, ular
mengeluarkan nafas beracun dari mulutnya yang menghancurkan Asura.
Selama
berputar, Gunung Mandara mulai tenggelam. Agar gunung tersebut tidak tenggelam,
maka Wisnu berubah dalam wujud kura-kura raksasa yang bernama Kurma dan
menopang gunung itu. Setelah proses pengadukan selesai dari dalam laut mucul
pohon Parijata (pohon pengabul keinginan), Gajah Airavata, racun Halahala
(diminum oleh Siwa), Kamadhenu (sapi pertama di bumi), Varuni (dewi anggur), Bidadari,
kuda Uchchaisravas, Dewi Lakshmi (yang kemudian menjadi istri Dewa Wisnu), dan
Dhanwantari yang membawa kendi yang berisi nektar keabadian. Ketika Asura ingin
mengambir nektar tersebut, Dewa Wisnu berubah menjadi Wanita Cantik yang
bernama Mohini. Para Asura percaya dengan rayuan Mohini dan menyerahkan nektar
keabadian kepadanya. Dengan demikian, kekuatan keabadian tetap di tangan para
dewa karena tidak ada sedikitpun tersisa untuk Asura.
Varaha
Berawal
dari seorang iblis bernama Hiranyaksha menyeret bumi ke dasar laut, maka Wisnu dalam
wujud babi hutan datang untuk menyelamatkan. Avatar Wisnu ini disebut Varaha.
Ia berjuang selama seribu tahun. Kemudian Varaha membunuh setan dan mengangkat
bumi keluar dari air dengan taring nya. Mitos ini mencerminkan legenda
penciptaan bumi oleh Prajapati (Brahma), yang diasumsikan dalam bentuk babi
hutan untuk mengangkat bumi keluar dari air purba. Waraha Awatara dilukiskan
sebagai babi hutan yang membawa planet bumi dengan kedua
taringnya dan meletakkannya di atas hidung, di depan mata.
Sumber:


1 komentar:
Click here for komentarwahhh dewa wisnuu ada ular nya yee
ConversionConversion EmoticonEmoticon